Retreat

Retreat
Paskah 7 April 2010

Golden Bridge

Kumpulan ide-ide kreatif yang dibangun untuk membangun masa depan pemuda yang semakin disukai Allah dan manusia.

Sabtu, 31 Juli 2010

Abortus

GAMBARAN KEJADIAN ABORTUS INKOMPLIT
DITINJAU DARI SEGI UMUR DAN PENDIDIKAN
DI RUMAH SAKIT ELIM RANTEPAO
TAHUN 2009


KARYA TULIS ILMIAH


Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Dalam Menyelesaikan Pendidikan
Pada Akademi Bina Sejahtera Rantepao Kabupaten Toraja Utara



O L E H

YULITA TINI PASA’BI
NIM : 07.143


AKADEMI KEBIDANAN BINA SEJAHTERA RANTEPAO
KABUPATEN TORAJA UTARA
TAHUN 2010

HALAMAN PERSETUJUAN

KARYA TULIS ILMIAH

GAMBARAN KEJADIAN ABORTUS INKOMPLIT
DITINJAU DARI SEGI UMUR DAN PENDIDIKAN
DI RUMAH SAKIT ELIM RANTEPAO
TAHUN 2009

O L E H
YULITA TINI PASA’BI
NIM : 07.143

Periode Bimbingan : Mei – Juni 2010
Karya Tulis Ilmiah ini diterima dan disetujui untuk diuji serta dipertahankan di depan Tim Penguji Akademi Kebidanan Bina Sejahtera Rantepao.

Rantepao, Juni 2010
Pembimbing KTI,


( Junty Ranteta’dung, S.SiT )



BIODATA PENULIS





A. Identitas
1. N a m a : YULITA TINI PASA’BI
2. N I M : 07.143
3. Tempat dan Tanggal Lahir : Lemo, 23 Desember 1988
4. Jenis Kelamin : Perempuan
5. A g a m a : Kristen Protestan
6. A l a m a t : Jln. Pacuan Kuda – Rantepao

B. Riwayat Pendidikan
1. Tamat SDN No. 148 Rarukan, Kecamatan Mengkendek, Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2001
2. Tamat SLTP Kristen Kandora, Kecamatan Mengkendek Kabupaten Tana Toraja, Tahun 2004.
3. Tamat SMA PGRI Diakui Ge’tengan-Marinding, Kabupaten Tana Toraja tahun 2007 Mengikuti Pendidikan pada Akademi Bina Sejahtera Rantepao Tahun 2007 sampai Sekarang.

AKADEMI KEBIDANAN BINA SEJAHTERA
RANTEPAO – TORAJA UTARA
KARYA TULIS ILMIAH



ABSTRAK

YULITA TINI PASA’BI, 07.143, Judal Penelitian : “Gambaran Kejadian Abortus Inkomplit Ditinjau dari Segi Umur dan Pendidikan di Rumah Sakit Elim Rantepao Tahun 2009” (Dibimbing oleh Junti Ranteta’dung)

xi + 7 Bab + 45 Halaman + Lampiran

Kejadian abortus inkomplit merupakan salah satu masalah dibidang obstetrik yang sangat mempengaruhi tingkat kesehatan dan kematian ibu.
Angka pasti kejadian abortus inkomplit di Indonesia belum dapat diperhitungkan karena banyak tidak dilaporkan kecuali bila ada komplikasi .
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kejadian abortus inkomplit ditinjau dari segi umur dan pendidikan di Rumah Sakit Elim Rantepao Tahun 2009.Metode penelitian ini adalah metode survey dengan pendekatan deskriptif.Populasi penelitian adalah semua abortus yang di rawat di Rumah sakit Elim Rantepao Tahun 2009 sebanyak 164 kasus dan sampel penelitian ini adalah pasien yang dirawat dengan diagnosa abortus inkomplit selama Tahun 2009 selama Tahun 2009 sebanyak 164 kasus.Data diolah secara manual dengan menggunakan kalkulator dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan narasi.
Dari hasil penelitian didapatkan angka kejadian abortus inkomplit tahun 2009 sebanyak 164 kasus (95,35%) dari 172 kasus .kasus abortus inkomplit terbanyak di temukan pada umur >35 tahun sebanyak 93 kasus (56,71%),pendidikan SMP-SMA sebanyak 101 kasus (61,2%). Melihat data tersebut maka di perlukan peran serta dari berbagai pihak dari instalasi, petugas kesehatan, lingkungan keluarga maupun dari masyarakat umum dalam mencegah faktor-faktor penyebab kejadian abortus.

Kata Kunci : Abortus Inkomplit
Daftar Pustaka : 15 (1998 – 2010)



KATA PENGANTAR

Syalom in cristo…
Segala kemuliaan dan hormat penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, sebab hanya karena pertolongan dan penyertaan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini dengan Judul “Gambaran Kejadian Abortus Inkomplit Ditinjau Dari Segi Umur Dan Pendidikan Di Rumah Sakit Elim Rantepao”, yang merupakan salah satu syarat dalam menyelesaikan pendidikan pada Akademi Bina Sejahtera Rantepao.
Penulis menyadari bahwa apa yang telah dibuat masih jauh dari kesempurnaan. Hal ini dapat penulis rasakan ketika dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini penulis banyak diperhadapkan pada kendala dan hambatan baik itu berupa pengetahuan, materil maupun dalam teknik penulisan. Namun dengan adanya arahan, bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak sehingga Karya Tulis ini dapat dirampungkan tepat pada waktunya. Oleh karena itu, dengan penuh kerendahan hati penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada Ibu Junty Ranteta’dung, S.SiT yang telah meluangkan waktunya untuk membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyusun Karya Tulis Ilmiah ini.

Dan tak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Ibu Agustin Palamba,S.Sos, M.Kes,Direktur Akademi Kebidanan Bina Sejahtera Rantepao.
2. Ibu Maria Sonda, S.SiT, selaku Wakil Direktur I Bagian Program pada Akademi Kebidanan Bina Sejahtera Rantepao.
3. Bapak / Ibu Dosen dan Staf Akademi Kebidanan Bina Sejahtera Rantepao yang telah membekali penulis dengan berbagai ilmu.
4. Dr. Hendrik Saranga’, selaku Direktur Rumah Sakit Elim Rantepao, Kepala Ruangan Kebidanan Rumah Sakit Elim Rantepao beserta Staf yang telah mengizinkan penulis dalam melaksanakan penelitian.
5. Untuk Ibunda tercinta (Ribcha Biu’) serta kakak tersayang (Pendy, Yuli, Jhosef) dan semua rumpun keluarga yang selama ini telah memberikan dorongan moril dan material serta doa sehingga penulis dapat menyelesaikan pendidikan.
6. Teman dan sahabat terdekat yang senantiasa memberikan semangat, dukungan dan doa. Terima kasih atas kebersamaan dan persaudaraan yang telah kita jalani bersama selama ini, dan semoga itu tetap abadi selamanya.
7. Rekan-rekan Mahasiswi Angkatan VI Akademi Kebidanan Bina Sejahtera Rantepao yang senantiasa memberikan dorongan, semangat dan bantuannya dalam menjalani pendidikan.
8. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebut satu persatu atas bantuannya dalam menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini, masih banyak akan ditemukan kekurangan dan kelemahannya. sehingga penulis sangat mengharapkan saran dan kritikan yang bersifat membangun untuk penyempurnaan karya tulis ini.
Harapan penulis semoga karya tulis ini bermanfaat bagi kita semua sebagai suatu sumber pengetahuan dan semoga Tuhan senantiasa melimpahkan berkat-Nya bagi kita semua. Amin !



Rantepao, Juni 2010


P e n u l i s


DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL i
HALAMAN PERSETUJUAN ii
HALAMAN PENGESAHAN iii
BIODATA PENULIS iv
ABSTRAK v
KATA PENGANTAR vi
DAFTAR ISI ix
DAFTAR GAMBAR xii
DAFTAR TABEL xiii
DAFTAR LAMPIRAN xiv
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang Masalah 1
B. Batasan Masalah 4
C. Rumusan Masalah 4
D. Tujuan Penelitian 4
E. Manfaat Penelitian 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 6
A. Konsep Dasar Tentang Abortus 6
1. Pengertian 6
2. Etiologi 8
3. Patofisiologi 10
4. Klasifikasi Abortus Gambaran Klinik Abortus dan Penanganannya 11
5. Komplikasi Abortus 20
6. Diagnosa Abortus 22
B. Tinjauan Tentang Abortus Inkomplit 22
1. Pengertian 22
2. Gambaran Klinis 23
3. Penanganan Abortus Inkomplit 23
BAB III KERANGKA KONSEP 28
A. Dasar Variabel yang Diteliti 28
1. Umur Ibu 28
2. Pendidikan Ibu 29
B. Diagram Kerangka Konsep yang Diteliti 30
C. Defenisi Operasional Variabel yang Diteliti 30
BAB IV METODE PENELITIAN 32
A. Jenis Penelitian 32
B. Waktu dan Tempat Penelitian 32
C. Populasi dan Sampel 34
D. Pengumpulan Data 35

E. Pengolahan dan Penyajian Data 35
F. Analisis Data 35
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 36
A. Hasil Penelitian 36
1. Kejadian Abortus 36
2. Abortus Inkomplit Menurut Umur Ibu 37
3. Abortus Inkomplit Menurut Pendidikan Ibu 38
B. Pembahasan 38
1. Abortus Inkomplit 38
2. Faktor Kejadian Abortus Inkomplit Menurut
Umur Ibu 39
3. Faktor Kejadian Abortus Inkomplit Menurut
Pendidikan Ibu 40
BAB VI P E N U T U P 43
A. Kesimpulan 43
B. S a r a n 44
DAFTAR PUSTAKA 45


DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar Abortus Imminens 13
Gambar Abortus Insipiens 14
Gambar Abortus Inkompletus 15
Gambar Abortus Kompletus 17
Gambar Missed Abortion 18
Gambar 2.3. Abortus Imminens 13
Gambar 2.4. Abortus Insipiens 13
Gambar 2.5. Missed Abortion 14
Gambar 2.6. Pengeluaran Hasil Konsepsi Secara Manual 22


DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 1 Distribusi Kejadian Abortus yang Dirawat di Rumah
Sakit Elim Rantepao Periode 2009 36

Tabel 2 Distribusi Kejadian Abortus Inkomplit Berdasarkan
Umur Ibu di Rumah Sakit Elim Rantepao Periode 2009 37

Tabel 3 Distribusi Kejadian Abortus Inkomplit Berdasarkan
Pendidikan Ibu di Rumah Sakit Elim Rantepao
Periode 2009 37


DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran I Tabel Data Sekunder
Lampiran II Lembar Konsultasi pada Pembimbing
Lampiran III Surat Izin Penelitian di Rumah Sakit Elim Rantepao

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Abortus merupakan salah satu kejadian obstetrik langsung yang dapat menyebabkan perdarahan, bahkan dapat menyebabkan kematian apabila tidak ditangani dengan baik. Frekuensi abortus sukar ditemukan karena abortus yang disengaja banyak yang tidak dilaporkan, kecuali apabila terjadi komplikasi juga karena sebagian abortus spontan hanya disertai gejala dan tanda ringan, sehingga pertolongan medic tidak diperlukan dan kejadian ini dianggap sebagai haid terlambat. Diperkirakan frekuensi abortus spontan sekitar 10-15% (Manuaba, 1998:214).
Jutaan wanita pada setiap tahunnya mengalami kehamilan yang tidak diinginkan. Beberapa kahamilan berakhir dengan kelahiran, tetapi beberapa diantaranya diakhiri dengan abortus. Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan dan sebagai batasan digunakan kehamilan yang kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. Sedangkan menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) batasan usia kehamilan adalah sebelum 22 minggu (google.co.id).


Ada berbagai upaya yang dilakukan oleh pemerintah yang bekerja sama dengan dinas kesehatan dalam usaha untuk meminimalisir jumlah atau pelaku aborsi dalam masyarakat. Penyuluhan kesehatan secara khusus mengenai dampak dan pengaruh yang diakibatkan dari aborsi serta penyuluhan kepada ibu-ibu hamil mengenai bagaimana cara yang benar dalam merawat kesehatan ibu dan janin telah dilakukan, namun tetap saja angka kematian masih sangat memprihatinkan. Menurut World Health Organitation (WHO) kematian ibu saat hamil dan melahirkan karena perdarahan sebanyak 318.000 per tahun (google.co.id, diakses tanggal 03 Mei 2010). Tercatat satu perempuan meninggal setiap menitnya karena abortus. Dimana terjadi 308 kehamilan setiap menitnya dengan 190 diantaranya kehamilan yang tidak diinginkan, sehingga angka abortus tidak aman juga tinggi. Dalam setahun dari 75 juta kasus kehamilan tidak diinginkan di dunia. 50 juta diantaranya melakukan abortus dan 20 juta diantaranya melakukan abortus tidak aman (google.co.id, diakses tanggal 03 Mei 2010).
Data dari Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Selatan tercatat jumlah kematian ibu tahun 2006 yaitu 101 per 100.000 kelahiran hidup dan pada tahun 2007 menurun menjadi 92 per kelahiran hidup (google.co.id, diakses tanggal 03 Mei 2010).
Profil Dinas Kesehatan Toraja Utara pada tahun 2009 diperkirakan jumlah kasus abortus dari bulan Januari sampai Desember 2009 sebanyak 63 orang. Sedangkan di Rumah Sakit Elim Rantepao dalam periode bulan Januari – Desember 2009 ditemukan kasus abortus sebanyak 173 orang yang mengalami abortus diantaranya Abortus Inkomplit 164 orang (93 %), abortus imminens 8 orang (5 %) . Lebih dari 80 % abortus terjadi pada usia kehamilan 12 minggu, setengah diantaranya disebabkan karena kelainan kromoson. Resiko terjadinya abortus meningkat dengan makin tingginya usia ibu serta makin banyaknya kehamilan. Selain itu kemungkinan abortus bertambah pada wanita yang hamil dalam waktu 3 bulan setelah melahirkan (bpk.penabur.or.id/aborsi, diakses 03 Mei 2010)
Diperkirakan frekuensi keguguran spontan berkisar antara 10-15%, namun demikian frekuensi seluruh keguguran pasti sukar ditentukan karena abortus yang disengaja banyak tidak dilaporkan kecuali bila terjadi komplikasi. Juga keguguran spontan hanya disertai gejala dan tanda ringan sehingga wanita tidak datang ke dokter atau rumah sakit (Mochtar Rustam, 1998, hal. 211).
Dengan melihat angka kejadian abortus yang cukup tinggi maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang gambaran kejadian Abortus Inkomplit di Rumah Sakit Elim Rantepao.



B. Batasan Masalah
Dari faktor-faktor yang mempengaruhi abortus, penulis hanya membatasi dua faktor yang akan diteliti, yaitu faktor umur dan faktor pendidikan yang merupakan penyebab Abortus Inkomplit di Rumah Sakit Elim Rantepao.

C. Rumusan masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka peneliti dapat merumuskan masalah penelitian sebagai berikut:
1. Bagaimana gambaran kejadian Abortus Inkomplit yang ditinjau dari segi umur dirumah Sakit Elim Rantepao?
2. Bagaimana gambaran kejadian Abortus Inkomplit yang ditinjau dari segi pendidikan dirumah Sakit Elim Rantepao ?

D. Tujuan Penelitian
Dalam melaksanakan penelitian ini, peneliti memiliki dua tujuan yang ingin dicapai yaitu:
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui secara ,umum gambaran kejadian Abortus Inkomplit di Rumah Sakit Elim Rantepao periode 2009


2. Tujuan Khusus
a. Diketahuinya gambaran kejadian Abortus Inkomplit yang ditinjau dari segi umur dirumah Sakit Elim Rantepao .
b. Diketahuinya gambaran kejadian Abortus Inkomplit yang ditinjau dari segi pendidikan dirumah Sakit Elim Rantepao .

E. Manfaat Penelitian
1. Sebagai masukan bagi institusi pendidikan Akademi Kebidanan Bina Sejahtera untuk menjadi dasar pertimbangan dalam pengambilan kebijakan dalam menyusun program dan peningkatan mutu pendidikan.
2. Manfaat ilmiah dapat menjadi sumber informasi dan memperkaya ilmu pengetahuan dan bahan acuan bagi peneliti selanjutnya
3. Manfaat bagi penelti merupakan pengalaman yang berharga bagi peneliti dalam upaya memperluas wawasan dalam rangka penerapan ilmu yang telah diperoleh.
4. Sebagai bahan masukan kepada tenaga kesehatan teruma bidan dalam melaksanakan penelitian tentang kasus abortus, khususnya Abortus Inkomplit


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang Abortus
1. Pengertian
Istilah abortus dipakai untuk menunjukkan pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan, mempunyai berat badan 297 gram waktu lahir. Akan tetapi, karena jarangnya janin yang dilahirkan dengan berat badan dibawah 500 gram dapat hidup terus, maka abortus ditentukan sebagai pengakhiran kehamilan sebelum janin mencapai berat 500 gram atau kurang dari 20 minggu (Prawirohardjo, 2006, hal.302).
Berikut ini dikemukakan beberapa defenisi abortus menurut para ahli antara lain :
a. Abortus adalah penghentian atau berakhirnya suatu kehamilan sebelum janin viabel (dalam konteks ini usia kehamilan 20 minggu). Diperkirakan antara 10 hingga 20 % dari kehamilan berakhir dengan abortus spontan dan sebagian besar peristiwa ini terjadi dalam usia 12 minggu pertama (Helen Farrer, 2001, hal. 53).
b. Abortus adalah istilah yang biasa digunakan untuk aborsi spontan, yaitu pengeluaran embrio atau janin premature dari uterus sebelum usia gestasi 20-24 minggu (Herdeson, 2005, hal. 256).
c. Abortus adalah fetus dengan berat < 500 gram atau umur kehamilan < 20 minggu pada saat di keluarkan dari uterus, yang tidak punya kemungkinan hidup (Newman,2002. kamus kedokteran).
d. Keguguran adalah pengeluran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan dengan beberapa pertimbangan para ahli yaitu :
1) Eastman : Abortus adalah keadaan terputusnya suatu kehamilan dimana fetus belum sanggup hidup sendiri di luar uterus. Belum sanggup diartikan apabila fetus itu beratnya terletak antara 400 – 1.000 gram, atau usia kehamilan kurang dari 28 minggu.
2) Jeffcoat : Abortus adalah pengeluaran dari hasil konsepsi sebelum usia kehamilan 28 minggu, yaitu fetus belum viable by law.
3) Holmer : Abortus adalah terputusnya kehamilan sebelum minggu ke-16, dimana proses plasentasi belum selesai (Mochtar, 1998, hal. 209).
e. Abortus adalah suatu proses berakhirnya suatu kehamilan, di mana janin belum mampu hidup diluar rahim (belum viable) dengan kriteria usia kehamilan <20 minggu atau berat janin <500 gr (Achadiat M. C. 2004, hal. 26).
f. Abortus adalah berakhirnya kehamilan sebelum anak dapat hidup di dunia luar dengan berat <500 gram atau umur kehamilan <20 Minggu (Siti Maimunah, 2005, hal. Kamus Kebidanan).
Dari beberapa defenisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa abortus adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan dengan umur kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat badan kurang dari 500 gram.

2. Etiologi
Ada beberapa faktor penyebab abortus yaitu :
a. Faktor pertumbuhan hasil konsepsi
Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi dapat menimbulkan kematian janin dan cacat bawaan yang menyebabkan hasil konsepsi dikeluarkan. Gangguan pertumbuhan hasil konsepsi dapat terjadi karena :
1) Faktor kromosom
Gangguan terjadi sejak semula pertemuan kromosom, termasuk kromosom seks.
2) Faktor lingkungan endometrium
a) Endometrium yang belum siap untuk menerima implantasi hasil konsepsi.
b) Gizi ibu kurang karena anemia atau terlalu pendek jarak kehamilan.
3) Pengaruh luar
a) Infeksi endometrium, endometrium tidak siap menerima hasil konsepsi.
b) Hasil konsepsi terpengaruh oleh obat dan radiasi menyebabkan pertumbuhan hasil konsepsi terganggu.
b. Kelainan pada plasenta
1) Infeksi pada plasenta dengan berbagai sebab, sehingga plasenta tidak dapat berfungsi.
2) Gangguan pembuluh darah plasenta, diantaranya pada diabetes mellitus.
3) Hipertensi menyebabkan gangguan peredaran darah plasenta sehingga menimbulkan keguguran. (Manuaba, 1998, hal. 215 – 216)
c. Penyakit ibu
Penyakit ibu dapat secara langsung mempengaruhi pertumbuhan janin dalam kandungan melalui plasenta :
1) Penyakit infeksi yang menyebabkan demam tinggi seperti pneumonia, tifoid, dan sebagainya. Kematian fetus dapat disebabkan karena toksin dari ibu atau invasi kuman atau virus pada fetus.
2) Keracunan Pb, nikotin, gas racun, alkohol, dan lain-lain.
3) Ibu yang asfiksia seperti pada dekompensasi kordis, penyakit paru berat, anemi gravis.
4) Malnutrisi, avitaminosis dan gangguan metabolisme, hipotiroid, kekurangan vitamin A, C, atau E, diabetes melitus.

3. Patofisiologi
Pada awal abortus terjadilah perdarahan dalam desidua basalis kemudian diikuti oleh nekrosis jaringan di sekitarnya. Hal tersebut menyebabkan hasil konsepsi terlepas sebagian atau seluruhnya, sehingga merupakan benda asing dalam uterus. Keadaan ini menyebabkan uterus berkontraksi untuk mengeluarkan isinya.
Pada kehamilan kurang dari 8 minggu hasil konsepsi itu biasanya dikeluarkan seluruhnya karena villi koriales belum menembus desidua secara mendalam. Pada kehamilan anatara 8 sampai 14 minggu villi koriales menembus desidua lebih dalam, sehingga umumnya plasenta tidak dilepaskan sempurna yang dapat menyebabkan banyak perdarahan. Pada kehamilan 14 minggu keatas umumnya dikeluarkan setelah ketuban pecah ialah janin, disusul beberapa waktu kemudian plasenta. (Wiknjosastro, 2006, hal. 303 – 304).
Berbagai bentuk perubahan hasil konsepsi yang tidak dikeluarkan dapat terjadi :
a. Mola Karnosa
Hasil konsepsi menyerap darah, terjadi gumpalan seperti daging.
b. Mola Tuberosa
Amnion berbenjol-benjol, karena terjadi hematoma antara amnion dan korion.
c. Fetus Kompresus
Janin mengalami mummifikasi, terjadi penyerapan kalsium, dan tertekan sampai gepeng.
d. Fetus Papiraseus
Kompresi fetus berlangsung terus, terjadi penipisan, laksana kertas.
e. Blighted Ovum
Hasil konsepsi yang dikeluarkan tidak mengandung janin, hanya benda kecil yang tidak berbentuk.
f. Missed Abortion
Hasil konsepsi yang dikeluarkan lebih dari 6 minggu.
(Manuaba, 1998, hal. 217)

4. Klasifikasi, Gambaran Klinis dan Penanganan Abortus
a. Klasifikasi
Abortus dapat dibagi menjadi dua golongan :
1) Abortus Spontan
Adalah abortus yang terjadi dengan tidak diketahui faktor-faktor medisinalis semata-mata disebabkan oleh faktor-faktor alamiah.
2) Abortus Provakatus (Induced Abortion)
Adalah abortus yang di segaja, baik dengan memakai obat-obatan maupun alat-alat. Abortus ini terbagi lagi menjadi :
a) Abortus Medisinalis (Abortus Therapeutica)
Adalah abortus yang terjadi karena tindakan-tidakan yang tidak legal atau berdasarkan indikasi medis.
b) Abortus Kriminalis
Adalah abortus yang terjadi oleh karena tindakan-tindakan yang tidak legal atau tidak berdasarkan indikasi medis (Mochtar, 1998:211-213).
b. Gambaran Klinis dan Penanganan Abortus
1) Abortus imminens (keguguran membakat)
Adalah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu, di mana hasil konsepsi masih dalam uterus dan tanpa adanya dilatasi serviks.
Tanda dan gajala : Perdarahan memalui OUE disertai mules sedikit, uterus membesar sesuai umur kehamilan, serviks belum membuka dan kehamilan positif (Winkjosastro, 2006 :305).






Gambar Abortus Imminens
(Mochtar, 1998, hal. 216)
Penanganan:
a) Tidak perlu penanganan khusus atau tirah baring total
b) Jangan melakukan aktivitas fisik berlebihan atau hubungan seksual
c) Jika perdarahan:
Berhenti : Lakukan asuhan antenatal seperti biasa.
Terus berlangsung : Nilai kondisi janin (uji kehamilan/ USG).
2) Abortus Insipiens (Keguguran Sedang Berlangsung)
Abortus Insipiens (Keguguran Sedang Berlangsung) adalah perdarahan dari uterus sebelum kehamilan 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat.
Tanda dan gejala : perdarahan bertambah banyak, rasa mules menjadi lebih sering dan kuat serta dilatasi serviks meningkat (Winkjosastro, 2006, hal. 307).




Gambar Abortus Insipiens
(Mochtar, 1998 : 215)

Penanganannya:
a) Jika usia kehamilan kurang dari 16 minggu, lakukan evakuasi uterus dengan aspirasi vakum manual (AVM). Jika evakuasi tidak dapat segera dilakukan:
(1) Berikan ergometrin 0,2 mg IM atau Misoprostol 400mg per oral
(2) Segera lakukan persiapan untuk pengeluaran hasil konsepsi dari uterus.
b) Jika usia kehamilan lebih dari 16 minggu:
(1) Tunggu ekspulsi spontan hasil konsepsi, kemudian evakuasi sisa-sisa hasil konsepsi
(2) Jika perlu lakukan impus 20 unit oksotosin dalam 500mg cairan IV (garam fisiologik atau larutan ringer laktat) dengan kecepatan 40 tetes per menit untuk membantu ekspulsi hasil konsepsi.
3) Abortus Inkomplit
Abortus Inkomplit adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masihada sisa tertinggal dalam uterus.
Tanda dan gejala : Kanalis servikalis terbuka, jaringan dapat diraba dalam kavum uteri atau kadang-kadang sudah menonjol dalam OUE, perdarahan dapat banyak sehingga menyebabkan syok dan perdarahan tidak berhenti sebelum hasil konsepsi dikeluarkan (Wiknjosastro, 2006, hal. 307).




Gambar Abortus Inkompletus
(Mochtar, 1998, hal. 215)

Penanganan :
a) Hasil konsepsi uterus (taksir usia gestasi), kenali dan atasi setiap komplikasi (perdarahan hebat, syok, infeksi atau sepsis)
b) Hasil konsepsi yang terperangkap pada serviks yang disertai perdarahan pada ukuran sedang, dapat dikeluarkan secara digital atau cunam ovum, setelah itu evaluasi perdarahan:
(1) Bila perdarahan berhenti, beri ergometrin 0,2mg IM atau misoprostol 400mg per oral.
(2) Bila perdarahan terus berlangsung, evakuasi sisa hasil konsepsi dengan AVM (Aspirasi Vakum Manual). Pilihan tergantung dari usia gestasi, pembukaan serviks dan keberadaan bagian-bagian janin.
(3) Bila ada tanda-tanda infeksi, beri antibiotik profilaksis (Ampicilin 500mg per oral atau Doksisiklin 100mg)
(4) Bila ada infeksi, beri ampicilin 1 gram dan metronidasol 500mg setiap 8 jam
(5) Bila terjadi perdarahan hebat dan usia gestasi dibawah 16 minggu, segera lakukan evakuasi dengan AVM
(6) Bila pasien tanpa anemik berikan sulfasferrosus 600mg per hari selama 2 minggu (anemia sedang) atau transfusi darah (anemia berat) (Syaifuddin AB, 2006: 149-150)
4) Abortus Kompletus (Keguguran lengkap)
Abortus Kompletus (Keguguran lengkap) adalah abortus seluruh hasil konsepsi telah telah dikeluarkan (desidua dan fetus) sehingga ruang rahim kosong.
Tanda dan gejala : Perdarahan sedikit, ostium uteri telah menutup, hasil konsepsi telah keluar dengan lengkap (Winkjosastro, hal. 308).



Gambar Abortus Kompletus
(Mochtar, 1998, hal. 214)
5) Missed Abortion
Missed Abortion adalah keadaan dimana janin sudah mati, tetapi tetap berada dalam rahim dan tidak dikeluarkan selama 2 bulan atau lebih.




Gambar Missed Abortion
(Mochtar, 1998, hal. 216)
Penanganan :
Setelah diagnosis missed abortion dibuat, timbul pertanyaan apakah hasil konsepsi perlu segera dikeluarkan. Tindakan pengeluaran itu tergantung dari berbagai faktor, seperti apakah kadar fibrinogen dalam darah sudatr mulai turun. Hipofibrinogenemia dapat terjadi apabila janin yang mati lebih dari I bulan tidak dikeluarkan. Selain itu faktor mental penderita perlu diperhatikan karena tidak jarang wanita yang bersangkutan merasa gelisah, mengetahui ia mengandung janin yang telah mati, dan ingin supaya janin secepatnya dikeluarkan
6) Abortus habitualis (keguguran berulang)
Abortus habitualis (keguguran berulang) adalah keadaan dimana penderita mengalami keguguran berturut-turut 3 kali atau lebih.

Penanganan :
Memperbaiki keadaan umum, pemberian makanan yang bergizi, anjuran istirahat yang cukup, larangan koitus dan olah raga. Merokok dan minum alkohol dikurangi atau dihentikan. Pada serviks inkompeter terapinya adalah operatif : SHIRODKAR atau Mc DONALD (Cervical Cerclage).
7) Abortus infeksiosus dan abortus septik
Abortus infeksiosus adalah keguguran yang disertai infeksi genital.
Penanganan:
Bila perdarahan banyak berikan transfusi darah dan cairan yang cukup.Berikan antibiotika yang cukup dan tepat (buat pembiakan dan uji kepekaan obat) :
a) Berikan suntikan penisilin l juta satuan tiap 6 jam.
b) Berikan suntikan streptomisin 500 mg setiap 12 jam atau antibiotik spectrum luas lainnya.
24 – 28 jam setelah dilindungi dengan antibiotika atau lebih cepat bila terjadi perdarahan banyak, lakukan dilatasi dan kuretase pengeluaran hasil konsepsi.infus dan pemberian antibiotika diteruskan menurut kebutuhan dan kemajuan penderita.
8) Abortus septik adalah keguguran disertai infeksi berat dengan penyebaran kuman atau toksinya ke dalam peredaran darah atau peritonium.
Penanganan:
Pada abortus septik terapi sama saja hanya dosis dan jenis antibiotika ditinggikan dan yang tepat sesuai hasil pembiakan dan uji kepekaan kuman.Tindakan operatif,
dilakukan melihat jenis komplikasi dan banyaknya perdarahan, dilakukan bila keadaan umum dan panas mulai mereda.

5. Komplikasi Abortus (Winkjosastro, 2006, hal. 311-312)
Komplikasi yang berbahaya pada abortus ialah perdarahan, perforasi, infeksi, dan syok.
a. Perdarahan
Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil konsepsi dan jika perlu pemberian tranfusi darah. Kematian karena perdarahan dapat terjadi apabila pertolongan tidak diberikan pada waktunya.
b. Perforasi
Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam posisi hiporetrofleksi. Jika terjadi peristiwa ini, penderita perlu diamat-amati dengan teliti. Jika ada tanda bahaya, perlu segera dilakukan laparatomi, dan tergantung dari luar dan bentuk perforasi, penjahitan luka perforasi atau histerektomi. Perforasi uterus pada abortus yang dikerjakan oleh orang awam menimbulkan persoalan gawat karena perlukaan uterus biasanya luas, mungkin juga terjadi perlukaan pada kandung kemih atau usus. Dengan adanya dugaan atau kepastian terjadinya perforasi, laparatomi harus segera dilakukan untuk menentukan luasnya cedera, untuk selanjutnya mengambil tindakan-tindakan seperlunya guna mengatasi komplikasi.
c. Infeksi
Infeksi dalam uterus atau sekitarnya dapat terjadi pada tiap abortus, tetapi biasanya ditemukan pada abortus inkompletus dan lebih sering pada abortus buatan yang dikerjakan tanpa memperhatikan asepsis dan antisepsis. Apabila infeksi menyebar lebih jauh, terjadilah peritonitis umum atau sepsis, dengan kemungkinan diikuti oleh syok.
d. Syok
Syok pada abortus bisa terjadi karena perdarahan (syok hemoragik) dan karena infeksi berat (syok endoseptik). (Wiknjosastro, 2006, hal. 311 – 312).

6. Diagnosa Abortus
Abortus harus diduga bila seorang wanita dalam masa reproduksi mengeluh tentang perdarahan pervaginam setelah mengalami haid terlambat, sering terdapat pula rasa mules. Kecurigaan tersebut di perkuat dengan di temukannya kehamilan muda pada pemerksaa bimanual dan dengan tes kehamilan secara biologis atau immunologi. Harus diperhatikan macam dan banyaknya perdarahan, pembukaan serviks dan adanya jaringan dalam kavum uteri/vagina (Wiknjosastro, 2006, hal. 304).

B. Tinjauan Tentang Abortus Inkomplit
1. Pergertian
Berikut ini ada beberapa istilah tentang abortus inkomplit
a. Abortus inkomplit adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus (Wiknjosastro, 2006, hal. 304).
b. Abortus inkomplit adalah hanya sebagian dari hasil konsepsi yang dikeluarkan,yang tertinggal adalah desidua atau plasenta (Mochtar Rustam,1998, hal. 212).
c. Abortus inkomplit adalah sebagian dari buah kehamilan tapi sebagian (biasanya jaringan plasenta)masih tertinggal di dalam rahim.(Sastrawinata, 2004, hal. 8).
d. Abortus inkomplit adalah perdarahan pada kehamilan muda dimana sebagian dari hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri melalui kanalis servikalis (Saifuddin, 2006, hal. 148).
e. Abortus inkomplit adalah proses abortus dimana sebagian hasil konsepsi telah di keluarkan melalui (Achadiat M. C. 2004, hal. 26).

2. Gambaran Klinik
Didapati antara lain adalah amenore, sakit perut, mules, perdarahan yang bisa sedikit atau banyak yang biasanya berupa stolsel (darah beku), sudah ada keluar fetus atau jaringan, pada abortus yang sudah lama terjadi atau pada abortus yang sudah lama terjadi atau pada abortus provokatus yang dilakukan oleh orang yang tidak ahli, sering terjadi infeksi. pada pemeriksaan dalam (VT) untuk abortus yang baru saja terjadi, didapati serviks terbuka, kadang sisa-sisa jaringan dapat diraba dalam kanalis servikalis atau kavum uteri, serta yang berukuran lebih dari seharusnya (Mochtar, 1999, hal. 212).

3. Penanganan Abortus Inkomplit
a. Hasil konsepsi uterus (taksir usia gestasi), kenali dan atasi setiap komplikasi (perdarahan hebat, syok, infeksi atau sepsis).
b. Hasil konsepsi yang terperangkap pada serviks yang disertai perdarahan pada ukuran sedang, dapat dikeluarkan secara digital atau cunam ovum, setelah itu evaluasi perdarahan:
1) Bila perdarahan berhenti, beri ergometrin 0,2 mg IM atau misoprostol 400mg per oral.
2) Bila perdarahan terus berlangsung, evakuasi sisa hasil konsepsi dengan AVM (Aspirasi Vakum Manual). Pilihan tergantung dari usia gestasi, pembukaan serviks dan keberadaan bagian-bagian janin.
3) Bila ada tanda-tanda infeksi, beri antibiotik profilaksis (Ampicilin 500 mg per oral atau Doksisiklin 100mg)
4) Bila ada infeksi, beri ampicilin 1 gram dan metronidasol 500 mg setiap 8 jam.
5) Bila terjadi perdarahan hebat dan usia gestasi dibawah 16 minggu, segera lakukan evakuasi dengan AVM.
6) Bila pasien tanpa anemik berikan sulfasferrosus 600mg per hari selama 2 minggu (anemia sedang) atau transfusi darah (anemia berat) (Syaifuddin AB, 2006: 149-150).
c. Pengeluaran sisa jaringan dengan cara kuratase (Kerokan) (Saifuddin AB, 2000, hal. 440)
Kuretase adalah cara membersihkan hasil konsepsi dengan memakai alat kuratase. sebelum melakukan kuretase, penolong harus melakukan pemeriksaan dalam untuk mengetahui letak uterus. Gunanya untuk mengetahui bahaya kecelakaan misalnya perforasi.
1) Persiapan Penderita
a) Melakukan pemeriksaan umum: tekanan darah, nadi, suhu, keadaan jantung dan sebagainya.
b) Pasanglah infus Dextrose 5% atau RL yang mengandung 10 unit oksitosin
2) Persiapan Alat-Alat Kuret : alat-alat hendaknya telah tersedia dalam bak dan dalam keadaan steril. alat-alat tersebut antara lain:
a) Spekulum Sims 2 buah
b) Cunam tampon (tampon tang) ;1 buah
c) Cunam peluru atau tenakulum : 1 buah
d) Uterus sonde 1 buah
e) Busi hegar (dilatator) 1 buah
f) Cunam ovum 1 buah
g) Sonde kuret 1 set
h) Mangkok logam berisi bethadin
i) Kateter 1 buah
j) Sarung tangan DTT 4 pasang
k) Kasah steril beberapa buah
l) Doek steril
m) Baju kamar tindakan
n) Masker
o) Alas kaki (sepatu boot karet)
p) Lampo sorot
q) Penampung darah dab jaringan
r) Larutan klorin 0,5 %
3) Tindakan
a) Pasang doek steril
b) Antiseptik genetalia eksterna dan sekitarnya
c) Kosongkankan vesika urinaria dengan kateter
d) Pasang spekulum sims secara vertikal ke dalam vagina, setelah itu putar ke bawah sehingga posisi bila menjadi transversal.
e) Mintah asisten menahan spekulum bawah pada posisinya.
f) Dengan sedikit menarik spekulum bewah masukan spekulum secar vertikal kemudian putar dan tarik keatas hingga jelas terlihat serviks
g) Mentah asisten menahan spekulum bawah pada posisinya.
h) Bersihkan jaringan dan darah dalam vagina (dengan kapas antiseptik yang di jepit dengan cunam tampon), tentukan bagian serviks yang akan di japit (jam 11 dan 13).
i) Jepit serviks dengan tenakulum pada tempat yang telah ditentukan.
j) Pegang gagang sendok kuret dengan ibu jari dan telunjuk, masukan ujung sendok kuret (sesuai lengkung uterus) melalui kanalis servikalis ke dalam uterus hingga menyentuh fundus uteri (untuk mengukur kedalam)
k) Lakukan kerokan dinding uterus secara sistematis dan searah jarum jam, hingga bersih (seperti mengenai bagian tersabut)
l) Keluarkan semua jaringan dan bersihkan darah yang mengenangi lumen vagina bagian belakang.
m) Lepaskan jepitan tenakulum pada serviks
n) Lepaskan spekulum bawah
o) Bersikan sekitar genetalia eksterna ibu
p) Dekontaminasi alat-alat dalam larutan klorin 0,5 % selama 10 menit.
4) Cuci tangan pasca tindakan
5) Perawatan pasca tindakan
a) Periksa kembali tanda vital pasien, segera lakukan tindakan dan beri intruksi apabila terjadi kelainan/komplikasi.
b) Buat intruksi pengobatan lanjutan dan pemantauankondisi pasien
c) Beritahu kepada pasien dan keluarga bawah tindakan telah selesai dilakukan, tetapi pasien masih memerlukan perawatan.
BAB III
KERANGKA KONSEP

A. Dasar Pemikiran Variabel yang Diteliti
Kesehatan reproduksi sangat penting dijaga agar dapat berfungsi secara normal tanpa mengalami gangguan. Bagi setiap wanita, dikodratkan untuk menjadi seorang ibu diharapkan mampu bereproduksi secara sehat dan mengatur kelahiran tanpa adanya kehamilan yang tidak diinginkan. Kesiapan fisik, mental dan sosial untuk menerima suatu kehamilan yang sangat penting, termasuk aspek paritas, umur, sosial ekonomi, pendidikan, pekerjaan, status pernikahan, sehingga diharapkan tidak terjadi kasus aborsi. Karena keterbatasan waktu, biaya dan tenaga, maka penulis hanya meneliti dua faktor yaitu faktor umur ibu dan pendidikan ibu.
Secara sistematika, maka akan diuraikan bagaimana gambaran variabel tersebut:

1. Umur Ibu
Menurut Manuaba (1998), umur ibu adalah lama waktu hidup dihitung dari sejak tanggal lahir dengan hasil ukuran yang diperoleh adalah : Muda (<20 tahun), dewasa (20-35), tua (>35 tahun).
Resiko terjadinya komplikasi kehamilan lebih besar pada wanikta usia muda. Menurut WHO (1994), resiko kematian akibat kehamilan pada usia 15-19 tahun 2 kali lebih besar dibanding wanita usia 20-24 tahun, sedangkan menurut Erica Royston (1994:40), periode yang paling aman untuk melahirkan adalah usia 20-35 tahun, dan resiko persalinan kembali meningkat pada wanita usia >35 tahun.

2. Pendidikan Ibu
Ibu yang hamil dengan latar belakang pendidikan yang kurang, mempunyai kemungkinan yang tinggi untuk resiko abortus, sebab pendidikan mengajarkan kepada manusia untuk dapat berfikir secara objektif dan dapat memberikan kemampuan baginya untuk menilai apakah budaya masyarakat dapat diterima atau tidak yang mengakibatkan seseorang dalam masyarakat memiliki faktor yang dapat menjadi pendorong bagi perubahan tingkah laku.


B. Diagram Kerangka Konsep yang Diteliti
Berdasarkan konsep berpikir seperti dikemukakan di atas, maka disusunlah pola pikir variabel penelitian sebagai berikut :
Variabel Independent


Keterangan :
: Variabel yang diteliti
: Variabel yang tidak diteliti

C. Defenisi Operasional Variabel yang Diteliti
1. Abortus Inkomplit adalah pengeluaran sebagian dari hasil konsepsi sebelum janin mempu hidup di luar kandungan ibu.
2. Umur ibu adalah lamanya wakltu hidup yang dihitung sejak tanggal lahir dengan hasil hitung yang diperoleh adalah muda (<20 tahun), dewasa (20-35 tahun), tua (>35 tahun).
Kriteria:
a. Resiko tinggi umur <20 tahun dan >35 tahun.
b. Resiko rendah umur 20-35 tahun.
3. Pendidikan ibu adalah jenjang pendidikan formal terakhir yang pernah diikuti oleh ibu.
Kriteria:
a. Resiko tinggi jika pendidikan ibu maksimal tamat SD.
b. Resiko sedang jika ibu SMP – SMA.
c. Resiko rendah jika pendidikan ibu di atas Diploma.


BAB IV
METODE PENELITIAN

A. Jenis penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah metode survei deskriptif, hal ini dimaksudkan untuk melihat gambaran kejadian abortus inkomplit di Rumah sakit Elim Rantepao tahun 2009.

B. Waktu dan tempat penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 3-7 Mei 2010 dan bertempat di rumah sakit Elim Rantepao. Adapun lokasi penelitian digambarkan sebagai berikut:
Secara umum lokasi Rumah Sakit Elim Rantepao terletak di Jalan Ahmad Yani No. 68, dengan batas sebelah utara dan selatan berbatasan dengan pemukiman, sebelah timur berbatasan dengan Jln. Pramuka, sebelah barat berbatasan dengan Jln. poros Ahmad Yani.
Rumah Sakit Elim Rantepao saat ini telah dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang terdiri dari:
1. Instalasi rawat jalan melalui :
a. Poliklinik umum
b. Poliklinik gigi dan mulut
c. Poliklinik penyakit dalam
d. Poliklinik anak
e. Poliklinik bedah
f. Poliklinik kebidanan dan kandungan
g. Poliklinik THT
h. Poliklinik
i. Poliklinik Syaraf
j. Poliklinik mata
2. Pelayanan instalasi gawat darurat diselenggarakan 24 jam setiap harinnya
3. Instalasi rawat inap sebanyak 143 TT terdiri dari:
a. Super VIP 3 TT
b. VIP Kebidanan 7 TT
c. VIP 14 TT
d. Kelas I 27 TT
e. Kelas II 16 TT
f. Kelas III 67 TT
g. ICU 9 TT
4. Pelayanan Penunjang :
instalasi laboratorium, Radiologi, Rehabilitasi Medik, Bedah Sentr\al, Gizi, Farmasi, IPRS.
5. Gudang
6. Asrama Para Medis
7. Perumahan Dok
8. Pos Satpam
9. Incenerator
10. Sumber Daya Manusia
a. Dokter Spesialis :
Spesialis Interna : 2 orang
Spesialis Kandungan : 2 orang
Spesialis Anak : 1 orang
Spesialis Bedah : 3 orang
Spesialis THT : 1 orang
Spesialis Syaraf : 1 orang
Spesialis Mata : 1 orang
b. Dokter Umum : 9 orang
c. Dokter Gigi : 2 orang
d. Paramedis : 86 orang
e. Paramedis Non Perawat : 7 orang
f. Non Paramedis : 66 orang

C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah semua ibu hamil yang mengalami abortus yang tercatat dalam laporan tahunan RS Elim selama tahun 2009.
2. Sampel
Sampel penelitian ini adalah pasien yang dirawat dengan diagnosa abortus inkomplit di RS Elim Rantepao tahun 2009.
3.Metode Penarikan Sampel
Metode penarikan sampel dilakukan secara total sampling yan berarti asus yang diambil secara keseluruhan
D. Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, informasi yang digunakan melalui data sekunder yaitu diperoleh dari ruangan rekaman medik di RS Elim periode 2009.

E. Pengolahan dan Penyajian Data
Data yang diperoleh dikumpulkan dan diolah secara manual dengan menggunakan kalkulator dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan dapat ditempuh dengan beberapa langkah sebagai berikut :
1. Editing , yaitu memeriksa kembali kebenaran pengisian data.
2. Tabulasi Data, yaitu data diperoleh dan disajikan dalam bentuk tabel.

F. Analisis Data
P = Keterangan :
P : Presentase yang dicari
f : Frekuensi
N : Jumlah
(Eko Budiarto,dalam buku Hasna M.Noor,29,hal.94)



BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 03 Mei – 07 Mei 2010 di Rumah Sakit Elim Rantepao di ruang rekam medik, dengan jumlah sampel 164 dari 172 orang yang dirawat, yang mengalami abortus. Data yang diperoleh dari buku status penderita abortus di ruang Kebidanan Rumah Sakit Elim Rantepao periode 2009. Data yang diperoleh selanjutnya diolah secara manual dengan menggunakan kalkulator dan dianalisis secara deskriptif, kemudian disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut:
1. Kejadian Abortus
Tabel 1
Distribusi Kejadian Abortus yang Dirawat
Di RS Elim Rantepao Periode 2009

No Tipe Abortus Frekuensi (n) Presentase (%)
1
2 Abortus Inkomplit
Abortus Immenens 164
8 95,35
4,65
Total 172 100%
Sumber : Data Sekunder
Berdasarkan tabel di atas, nampak bahwa jumlah kejadian abortus sebanyak 172 yang terdiri dari abortus inkomplit 164 kasus (95,35%), abortus imminens 8 kasus (4,65%) yang dirawat di Rumah Sakit Elim Rantepao periode 2009.

2. Abortus Inkomplit Menurut Umur Ibu
Tabel 2
Distribusi Kejadian Abortus Inkomplit Berdasarkan Umur
Di RS Elim Rantepao Periode 2009

No Umur Abortus Inkomplit
Σn %
1
2
3 <20 tahun
20– 35 tahun
>35 tahun 23
93
48 14,02
56,71
29,27
Total 164 100%
Sumber : Data Sekunder
Pada tabel di atas nampak kasus abortus inkomplit yang terbanyak adalah pada umur 20-35 tahun, yaitu 93 kasus (56,71%), kemudian pada umur >35 tahun sebanyak 48 kasus (29,27%), sedangkan kelompok umur <20 tahun sebanyak 23 kasus (14,02%)


3. Abortus Inkomplit Menurut Pendidikan Ibu
Tabel 3
Distribusi Kejadian Abortus Inkomplit Berdasarkan Pendidikan
Di RS Elim Rantepao Periode 2009

No Pendidikan Abortus Inkomplit
Σ n %
1
2
3 SMP – SMA
> Diploma 50
101
14 30,3
61,2
8,5
Total 165 100
Sumber: Data Sekunder
Berdasarkan tabel di atas, nampak bahwa jumlah penderita abortus inkomplit yang terbanyak pada kelompok ibu dengan pendidikan SMP – SMA yaitu 101 kasus (61,2%), kelompok pendidikan Diploma yaitu 14 kasus (8,5%).

B. Pembahasan
1. Abortus Inkomplit
Abortus Inkompletus adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus. Apabila plasenta (seluruhnya atau sebagian) tertahan di uterus, cepat atau lambat akan terjadi perdarahan yang
merupakan tanda utama abortus inkompletus. Jika hanya sebagian hasil konsepsi yang dikeluarkan, yang tertinggal adalah desidua atau plasenta, perdarahan biasanya terus berlangsung, banyak dan membahayakan ibu. Sering serviks tetap terbuka karena masih ada benda di dalam rahim yang dianggap sebagai benda asing (corpus alienum). Oleh karena itu, uterus akan terus berusaha mengeluarkannya dengan mengadakan kontraksi sehingga ibu merasakan nyeri, namun tidak sehebat abortus insipiens. Ciri dari abortus ini adalah perdarahan yang banyak, disertai kontraksi serviks terbuka, sebagian jaringan keluar (google.com). Berdasarkan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa kejadian abortus inkomplit yang terjadi dan yang dirawat di Rumah Sakit Elim Rantepao periode 2009 sebanyak 164 kasus, dan untuk periode Januari – Desember 2009 didapatkan 172 abortus.

2. Faktor Kejadian Abortus Inkomplit Menurut Umur Ibu
Berdasarkan variabel umur ibu dari sampel yang ada, di dapat usia 15-47 tahun dengan frekuensi kejadian abortus inkomplit terbanyak pada kelompok umur 20-35 tahun sebanyak 93 kasus (56,71%), disusul pada kelompok umur >35 tahun yaitu sebanyak 48 kasus (29,27%) dan paling sedikit pada kelompok umur < 20 tahun sebanyak 23 kasus (14,02%). Hasil penelitian ini sependapat dengan BKKBN (1990:53), bahwa wanita yang hamil dan bersalin pada umur
< 20 tahun dari segi biologis perkembangan reproduksinya belum optimal, dari segi psikis belum matang dalam menghadapi tuntutan beban moril, mental dan emosional, dan dari segi ekonomi masih belum siap untuk hidup mandiri. Bagi wanita yang hamil dan bersalin > 35 tahun, jika dilihat dari segi biologisnya fungsi alat reproduksinya sudah mulai menurun. Hal ini disebabkan oleh karena kehamilan pada umur ini terjadi proses penuaan dan jaringan alat reproduksi dan jalan lahir terjadi kemunduran elastisitas ligamentum pada uterus. Keadaan ini cenderung berakibat pada proses kehamilan, kelainan letak, pertumbuhan plasenta dan persalinan.

3. Faktor Kejadian Abortus Inkomplit Menurut Pendidikan Ibu
Jika ditinjau dari segi pendidikan, kasus abortus inkomplit terbanyak terdapat pada kelompok SMP – SMA yaitu 101 kasus (61,2%) dari 164 kasus yang terjadi. Dan angka terendah terjadi pada tingakat pendidikan >Diploma yaitu 14 kasus (8,5%).
Hasil penelitian ini sependapat dengan Notoadmodjo (2003:17), yang mengatakan bahwa pendidikan kesehatan juga sebagai suatu proses dimana proses tersebut mempunyai masukan (input) dan keluarn (output). Di dalam suatu proses pendidikan kesehatan menuju tercapainya tujuan pendidikan disamping masukannya sendiri, juga metode materi, pendidik atau petugas yang melakukannya. Sedangkan menurut http://www.googel.co.id, hal ini disebabkan oleh karena tingkat pendidikan SMP – SMA yang merupakan masa trasisi yang paling kritis dan dengan mudah dan cepat mendapatkan informasi seks dan aborsi. Seorang wanita akan terlibat dalam proses pernikahan dengan konsekuensi akan dapat hamil, bersalin, dan selanjutnya diberikan tugas untuk mengasuh anak-anaknya dengan baik. Perlu persiapan pengetahuan, pandangan dan perubahan pola pikir sehinga dia dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Derasnya revolusi komunikasi akan mengharuskan penyadaran pada pengetahuan seorang ibu agar naluri biologisnya dikendalikan sesuai dengan keinginan normal yang telah disepakati.
Pada tingkat pendidikan SMP – SMA pada umumnya, masih banyak remaja yang belum mengerti tentang pendidikan seks dan kesehatan organ reproduksinya. Ketidaktahuan inilah yang cenderung mendorong para remaja untuk mencari informasi dari sumber-sumber yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Misalkan melalui media massa, TV, radio maupun internet. Jika kehamilan terjadi pada anak remaja, terutama bagi anak-anak SMA, mereka akan cenderung untuk lebih memilih untuk menyelesaikan pendidikannya daripada menanggung resiko (belum siap mental, finansial, dan beban sosial lainnya).
Menurut Nasriani D (2000, hal.16), mengatakan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan maka akan semakin rendah kejadian abortus. Hal ini dapat didasari oleh tingkat pengetahuan mereka menegenai bagaimana cara mereka dalam melindungi dengan penggunaan alat kontrasepsi, dan sebagian besar juga lebih merencanakan kehamilan dengan matang.


BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian, tentang gambaran umum kejadian abortus inkomplit menurut umur dan pendidikan di RS Elim Rantepao periode 2009, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Jumlah penderita abortus sebanyak 172 kasus yang terdiri dari abortus inkomplit 164 kasus (95,35%) dan abortus imminens 8 kasus (4,65%) yang dirawat.
2. Kejadian penderita abortus inkomplit berdasarkan umur yang terbanyak adalah kelompok umur 20-35 tahun sebanyak 93 kasus (56,71%), disusul pada kelompok umur >35 tahun yaitu sebanyak 48 kasus (29,27%) dan paling sedikit pada kelompok umur < 20 tahun sebanyak 23 kasus (14,02%).
3. Kejadian penderita abortus inkomplit berdasarkan pendidikan yang terbanyak adalah kelompok ibu dengan pendidikan SMP – SMA yaitu 101 kasus (61,2%), kelompok pendidikan Diploma yaitu 14 kasus (8,5%).


B. Saran
1. Diharapkan kepada ibu hamil untuk memeriksakan kehamilan dan jika terjadi perdarahan segera pergi ke rumah sakit terdekat.
2. Ibu-ibu dengan tingkat pendidikan rendah diharapkan berperan aktif dalam mengikuti penyuluhan kesehatan, agar lebih ,mudah untuk memahami bagaimana cara menjaga kesehatan kehamilan dan juga memperoleh pelayanan dari petugas kesehatan.
3. Rumah Sakit Elim Rantepao agar lebih meningkatkan pelayanan obsetri melalui perawatan antenatal dan memberikan informasi tentang pendidikan kesehatan kepada pasangan usia subur khususnya ibu-ibu yang mengalami abortus inkomplit.
4. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat meneruskan penelitian ini untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang abortus inkomplit di Indonesia khusus Kabupaten Toraja Utara.








DAFTAR PUSTAKA

Achadiat M. Chrisdiono, 2004, Obstetri dan Ginekologi, Penerbit Buku Kedokteran ECG, Jakarta.

Budiarto,Eko,dalam Noor,M.Hasna,2009,Metodologi penelitian dalam
Kebidanan,Makassar

Farrer Helen, 2001, Perawatan Maternitas, Penerbit Buku Kedokteran EGC,Jakarta.

Henderson, Christine, Buku Ajar Konsep Kebidanan, EGC, Jakarta, 2006

Manuaba Ida Bagus Gde, 1998, Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan, Penerbit Buku Kedokteran ECG, Jakarta

Mochtar Rustam, 1998, Sinopsis Obstetri, Cetakan 1, EGC, Jakarta

Saifuddin, 2002, Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, YBP-SP, Jakarta

Saifuddin, 2006, Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, YBP-SP, Jakarta

Sastrawinata Sulaiman, 2005, Obstetri Patologi, Penerbit Buku Kedokteran ECG, Jakarta

Maimunah Siti, Kamus Kebidanan, 2005

Varney, Helen, Buku Ajar Asuhan Kebidanan, EGC, Jakarta, 2005

Wiknjosastro, 2006, Ilmu Kebidanan, YBP-SP, Jakarta

Profil Dinas Kesehatan Toraja Utara, 2009

http://www.google.co.id, Diakses 03 Mei 2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar