Retreat

Retreat
Paskah 7 April 2010

Golden Bridge

Kumpulan ide-ide kreatif yang dibangun untuk membangun masa depan pemuda yang semakin disukai Allah dan manusia.

Selasa, 04 Januari 2011

KHOTBAH KEDUKAAN

PEMBACAAN : I KORINTUS 15 :35-49

DALAM KRISTUS KITA MATI DAN BANGKIT

Sidang perkabungan yang dikasihi Tuhan
Kata tentang kematian dan kebangkitan dihubungkan dengan pemberitaan kebangkitan Kristus dari antara orang mati. Kedua kata ini sulit dimengerti dan dijangkau oleh akal dan kemampuan manusia. Dan akan bertambah sulit lagi bila keduanya dihubungkan atau dikaitkan satu kepada yang lain, bila dikatakan bahwa bagi orang percaya, kematian menunjuk ke depan, kepada kebangkitan yang akan datang.
Kesulitan inilah yang disoroti dan dimunculkan dalam pembacaan kita. Paulus berusaha sungguh-sungguh mau meyakinkan Jemaat bahwa berdasar atas kebangkitan Kristus maka orang mati akan dibangkitkan. Demikian juga dengan rasul-rasul yang lain berulangkali memperkenalkan diri sebagai saksi-saksi kebangkitan Kristus. Memang peristiwa ini perlu diberitakan, karena sesungguhnya kebangkitan Kristus adalah permulaan dari apa yang akan berakhir, permulaan dari suatu pengaharapan tentang hidup yang baru.
Sidang perkabungan yang kekasih
Tetapi ternyata Jemaat di Korintus justru dipusingkan oleh ajaran menganai kebangkitan orang mati itu. Mengapa mereka pusing dan dihantui oleh keragu-raguan? Karena hal itu sulit diterima dan dianggap mustahil. Selain itu mereka juga dibingungkan oleh bermacam-macam pendapat yang disebarluaskan oleh penganut agama dan filsafat yang ada di Korintus. Ada yang dengan keras menyangkal bahwa tubuh akan dibangkitkan. Ini sejalan dengan tantangan orang saduki kepada Yesus dalam Markus 12:18-27. Bagi mereka, mati ya mati, tak ada harapan kelanjutan hidup. Ada pula yang mengajar kan bahwa jiwa seseorang itu justru perlu dilepaskan dari tubuh jasmaniahnya karena tubuh itu tidak penting, tubuh itu hanya menjadi beban bagi jiwa dimana jiwa terkurung sebagai burung di dalam sangkar. Dalam kepusingan dan keraguan yang demikian orang Kristen di Korintus mempertanyakan bagaimana orang mati dibangkitkan ? dan dengan tubuh apakah mereka akan kembali? Kedua pertanyaan itu dijawab oleh Paulus. Pertanyaan pertama dijelaskan dalam pasal 15:50-58. dan dalam pembacaan kita Paulus memeberi jawab atas pertanyaan dengan tubuh apakah mereka akan kembali?
Sidang perkabungan yang dikasihi Tuhan
Bagi orang percaya, kematian laksana bibit yang tertabur, supaya kehidupan yang terkandung didalam dirinya yang dikaruniakan oleh Allah sewaktu menerima Tuhan Yesus, dapat muncul dengan segala kemuliaannya. Tubuh yang ditabur dalam kematian adalah tubuh alamiah yang kan hancur dalam kebinasaan, kelemahan dan akan menjadi debu. Tetapi tubuh yang akan dibangkitkan adalah tubuh rohaniah. Tubuh mulia yang tidak lagi akan binasa. Dengan demikian bukanlah akhir dari hidup manusia melainkan menjadi pintu masuk kedalam hidup yang kekal. Sehingga kita telah memakai rupa sorgawi bukan lagi rupa alamiah dalam persekutuan dengan Tuhan dalam kemuliaanNya.
Sidang perkabungan
Kesaksian Paulus ini hendak kita renungkan juga dan menghayatinya dengan iman yang sungguh. Kebangkitan Kristus sebagai buah yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal (ay.20), sungguh adalh jaminan kebangkitan dari kematian untuk masuk persekutuan hidup dengan Tuhan dalam kemuliaanNya. Karena itu jangan kita putus asa menghadapi kematian. Kita ada harapan, ada kepastian yang tidak tergoyahkan. Sebab kita hidup bukan tanpa masa depan sesudah kematian. Apa yang menggelisahkan yang terjadi dalam hidup kita di dunia ini, seperti penderitaan, kematian dan sebagainya, semuanya itu ada artinya yaitu menunjuk kedepan kepada kebangkitan yang akan datang. Justru itu kita dipanggil untuk percaya dan tetap setia tinggal dalam persekutuan Kristus, agar kitapun mati dan bangkit didalam dan bersama Dia. Kita dipanggil dan diberikan kesempatan untuk terus-menerus membarui hidup kita, hidup yang tiap kali rusak karena kebodohan dan ketidak percayaan kita. Ya kita dipanggil untuk menyatakan dan memberitakan kuasa dan perbuatan. Jadi kitapun layak memperhatikan nasihat akhir dalam pasal ini yang berbunyi : “Karena itu saudara-saudara yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia” (ay.58). Amin

Oleh Ezra Tari

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar